Muwakkil Spiritual

Disegala jenis amaliyah selalu berputar-putar pada Muwakkil (مُوَكِّل). Lalu siapakah muwakkil itu? Apakah mereka berhubungan dengan dunia kita atau rohani ? Apakah dia Jin atau Malaikat ? Mari kita selidiki.

Karakter Pertama : Mereka ghaib (tidak bisa dilihat dengan mata), Namun mereka adalah makhluk ciptaan Allah dan mematuhi perintah-Nya. Jika mereka menemukan seseorang yang keseluruhan hidupnya dalam keadaan mengajarkan Al-Qur’an dan menjalankan Amalan dari Sunah Rasul (saw), maka mereka akan semakin dekat kepada orang-orang yang berbudi luhur.

Karakter Kedua: Allah (swt) menciptakan mereka dari Nur (cahaya) dan mereka bebas dari segala dosa. Mereka tidaklah terpengaruh oleh kesenangan duniawi dan secara total berpantang pada segala godaan. Mereka memuji Allah dengan penuh pengabdian. Sebab kemuliaan mereka yang alami, serta mereka sangat kuat sekali dalam suatu kondisi rohani, oleh karena itu kemampuan mereka sangat diluar jangkauan. Mereka bisa membantu para pengamal apabila dia dipuaskan olehnya. Dia dapat bertindak tanpa harus berkata apa-apa dalam kesatuan rohani memuji kebesaran Allah yang Maha Tinggi.

Ada suatu kesalah-pahaman dengan para pengamal bahwa mereka dapat mengendalikannya, seperti dia dapat mengendalikan jin untuk dimasukkan ke dalam botol. Suatu hal yang tidak mungkin, karena Muwakkil sangat kuat apabila terjebak ke dalam botol para pengamal. Kebanyakan malah Muwakkil yang membantu para pengamal untuk mengatur atau memenangkannya, Dan mereka memenuhi permintaan pengamal secara “sah”.

Karakter Ketiga: Muwakkil disebut Alwi karena dia bermacam-macam. Dia membantu para pengamal apabila pengamal mengabdikan keseluruhan hidupnya sesuai prinsip-prinsip dari Islam. Dia akan memberikan pesan kepada pengamal yang menghabiskan kehidupannya hanya menuju kepada jalan agama dan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rosul, Muwakkil Alwi akan otomatis semakin mendekat dan akan selalu bersedia untuk membantu pengamal.

Contoh bagi para pengamal:

Ada seseorang anak pedagang warung kopi kecil, kita sebut saja si-Fulan, yang mau merelakan untuk meninggalkan kuliahnya, pekerjaan dengan jabatan yang tinggi, kekasihnya yang cantik dan kaya. Sebab dia menyadari bahwa hidup dan kehidupan di dunia ini hanya permainan atau ibarat mimpi. Si-Fulan memutuskan untuk memperdalam Ilmu Tauhid dan selalu berdzikir dalam keadaan apapun. Entah dia sedang mengerjakan sesuatu, terdiam, ataupun tertidur. Karena kenikmatannya dalam berdzikir hingga ia tidak perdulikan perawatan fisiknya, sehingga banyak orang-orang yang menganggapnya gila. Pada suatu malam di suatu desa yang amat terpencil, si-Fulan terlalu lelah karena sibuk mengarahkan teman-temannya mengatur dan membangun desa yang terpencil, menjalankan tugas dari kampus dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dia baringkan punggungnya dibawah lantai beralaskan bantal tepat diatas jendela rumah tempat para peserta laki-laki beristirahat dan tak lupa sambil berdzikir pada kegelapan kamar yang sunyi. Tak lama kemudian ada seekor kucing kecil melompat diatas jendela dan turun ke bawah tepat di kepala si-Fulan. Kucing tersebut menarik-

narik rambut si-Fulan yang panjang, si-Fulan tak menghiraukannya karena berpikir bahwa kucing tersebut sedang bermain-main. Si-Fulan berkata dalam batin “Jika kau senang buatlah mainan rambutku, apabila hal demikian membuat bahagia hatimu”. Sambil memejamkan mata dan berdzikir tiba-tiba terasa kepala si-Fulan bagai ditusuk-tusuk pisau, panas, dan perih. Seketika itu si-Fulan membuka matanya dan melihat keatas untuk mencari tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut. Tak disangka dia melihat dua sosok makhluk yang keseluruhan tubuhnya dibalut dengan banyak bulu dan dua bola mata yang merah menyala berapi-api, dengan taring, cakar yang panjang menusuk dan mencakar kepala si-Fulan.

Secepat kilat si-Fulan bergegas untuk bangkit, namun tak kuasa karena kedua kakinya juga diangkat dengan kedua makhluk yang lain, sedangkan kedua tangan si-Fulan juga diangkatnya. Sehingga posisi tubuh si-Fulan hampir melayang ke udara, karena tarik menarik antara si-Fulan dengan makhluk tersebut. Si-Fulan tambah tak berdaya ketika melihat di sekitarnya dikelilingi ribuan makhluk-makhluk berbulu yang berbaris rapi untuk menyerang si-Fulan. Sehingga tiada daya dan upaya bagi si-Fulan, dalam keadaan dzikirnya dia memohon kepada Allah agar bisa mengusir makhluk-makhluk tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara lirih di telinga si-Fulan “Lawanlah mereka dengan jurus macan, namun janganlah kau melawan mereka dengan kekuatan yang tidak seimbang”, Seketika itu tubuh si-Fulan mengeluarkan cahaya terang dengan daya yang besar kemudian memperkecil kekuatan daya tersebut untuk disesuaikan dengan kekuatan makhluk yang menyerangnya. Dengan secepat kilat si-Fulan menghempaskan cengkraman makhluk berbulu itu, dan meraung-raung seperti macan, membuat para peserta laki-laki KKN yang tertidur lelap di kamar terbangun, karena raungan si-Fulan yang memekikkan telinga. Semua para peserta laki-laki menutupi telinganya karena tak kuasa mendengar raungan si-Fulan, si-Fulan bagaikan pendekar silat yang berjurus macan menghajar makhluk-makhluk berbulu tersebut.

Karena banyaknya makhluk berbulu hingga tiada habisnya ketika dilawan, si-Fulan berkata dalam hatinya “Apabila tak kukerahkan semua daya kekuatan, bagaimana bisa aku menang melawannya, karena makhluk itu tiada habis-habisnya”, suara lirih terdengar di telinga si-Fulan “Jangan kau kerahkan semua daya kekuatanmu, karena akan bisa melukai peserta yang lain, seperti makhluk berbulu yang bersembunyi menempel ditubuh peserta KKN itu, engkau tendang hingga terseret beberapa meter dia dilantai. Kemudian engkau tolong peserta itu dan meminta-maaf kepadanya lalu kau hajar kembali para makhluk itu. Iqamat… iqamat… iqamatlah…”. Seketika itu si-Fulan Iqamat terdengar suara ledakan yang keras di dalam kamar, ribuan makhluk berbulu itu akhirnya menghilang.

Demikianlah akhir cerita diatas, padahal si-Fulan tidak pernah belajar dan tahu-menahu perihal ilmu silat ataupun menghimpun daya kekuatan tenaga dalam (latifa / kanuragan / chi / reiki, dll), namun dengan seketika si-Fulan sangat mahir menguasainya. Si-Fulan Hanya berbekal Ilmu Tauhid dan berdzikir serta beramal baik dengan sesamanya,  disebabkan karena KEBULATAN TEKAD-nya dalam menuju ke Jalan Allah sehingga dia ditolong oleh Muwakil yang dekat dengan apa yang diamalkan oleh si-Fulan yaitu kalimah “لا اله الا الله”.