Jahil (bodoh)

Jahil adalah “bodoh dalam perkara ‘Aqidah”.

Ketika seseorang itu tidak paham tentang perkara dien (agama), maka ia tidak tahu mana jalan yang lurus menuju Allah سبحانه وتعالى sehingga sepandai-pandai apapun ia dalam perkara duniawinya, setinggi-tinggi apapun ia dalam titel akademiknya, tetap saja ia “jahil (bodoh)” dalam perkara aqidah terhadap Allah سبحانه وتعالى.

Jadi yang dimaksud dengan “Bodoh” atau “Cerdas” itu bukan perkara IQ saja, bukan sekedar urusan ilmu pengetahuan duniawi dan teknologi saja, dan bukan pula berkaitan dengan perkara peradaban saja; melainkan yang terpenting daripada itu adalah untuk perkara Kehidupan Setelah Mati.

Apabila seseorang tidak tahu bahwa ia diciptakan di dunia ini untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى serta mentauhidkan-Nya, maka berarti ia “bodoh” dalam mengetahui dengan cara apa ia bisa selamat menuju Allah سبحانه وتعالى untuk kehidupannya yang tidak hanya di dunia ini saja tetapi juga untuk kehidupannya di akherat nanti.

Jadi seorang yang “bodoh” dalam ayat diatas adalah seorang yang menolak jalan Allah سبحانه وتعالى. Walaupun secara IQ ia tergolong jenius sekalipun. Fir’aun yang mengaku dirinya paling tinggi, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan sekalipun, namun karena ia tidak mengakui jalan Allah سبحانه وتعالى, maka perhatikanlah betapa ia dihinakan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan ditenggelamkan ke dasar lautan yang dalamnya tidak kurang dari 900 meter.

“Jangan pernah berdebat dengan orang bodoh, mereka yang melihat, mungkin tidak tahu bedanya.”