ilmu huruf muqottho’ah part 2

ilmu huruf muqottho’ah bagian kedua:

۞ Didalam awal surat Al-Qur’an terdapat 29 huruf yaitu ۞

• الم Alif Lam Mim : (2:1), (3:1), (29:1), (30:1), (31:1), (32:1)
• الر Alif Lam Ro’ : (10:1), (11:1), (12:1), (14:1), (15:1)
• المر Alif Lam Mim Ro’ : (13:1)
• المص Alif Lam Mim Shod : (7:1)
• حم Kha Mim : (40:1), (41:1), (42:1), (43:1), (44:1), (45:1), (46:1)
• يس Yaa Sin : (36:1)
• طس Tho Sin : (27:1)
• طسم Tho Sin Mim : (26:1), (28:1)
• ص Shod : (38:1)
• ق Qof : (50:1)
• ن Nun : (68:1)
• كهيعص Kaf Ha Ya Ain Shod : (19:1)
• حمعسق Kha Mim Ain Sin Qof: (42:1-2)

Pendapat tentang Huruf Muqottho’ah :
Angka 14 huruf dari mereka adalah apa yang disebut iluminasi / penerangan. Ini adalah setengah dari alfabet Arab oleh penghitungan Para ulama berbeda dalam penafsirannya, dikatakan bahwa:
Ibnu Abbas berkata, “Para ulama tidak dapat memahami maknanya.
“Ash-Sh’abi mengatakan, “Ini adalah rahasia Allah, jadi jangan mencarinya.

Rahasia كهيعص (Kaf Ha’ Ya ‘Ain Shod)
Abu Thalib al-Maliki mengatakan dalam bukunya “Ketentuan tentang Hati”, Imam Ali (ra) menggunakannya untuk membuat permohonan ini:
Oh كهيعص ) ) ( Kaf, Ha’, Ya’, ‘Ayn, Shod, (QS Maryam 19: 1) Aku berlindung kepadamu dari dosa-dosa yang merupakan murka, atau membalikkan berkah atau menghilangkan perlindungan atau menahan hujan jatuh atau menambah musuh terhadapku. Ya Allah, bantulah kami melawan diri kami sendiri.

Diriwayatkan bahwa Ibn ‘Iyyadh mengatakan: كهيعص Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shod berarti bahwa:
ك Kaf adalah untuk كافي Kafi (yang Cukup),
ه Ha adalah dari هادي Hadi (Panduan),
ي Ya adalah dari يعقين Yaqin (Kepastian),
ع ‘Ayn adalah dari عليم’ Aliim (Maha Mengetahui), dan
ص Sadh untuk صادق Shadiq (Jujur).

As-Sayyin al-Murtadha az-Zubaydi mengatakan :
Mereka adalah nama-nama Allah tetapi beberapa berbeda dengan yang lain dimana yang ini juga merupakan suatu tanda untuk atribut.

Dikatakan dalam komentar dari al-Watajini bahwa Huruf adalah makna simbolis dari Surat dalam Al-Qur’an dan bahwa tidak ada yang tahu maknanya kecuali yang Rabbaniyun.

At-Tirmidzi mengatakan: pembukaan surat memiliki tanda-tanda yang kental (dalam huruf), tidak ada yang tahu mereka kecuali Hakim dari ummat.

Ibn al-‘Arabi mengatakan:
“Anda harus tahu bahwa semua huruf (Huruf muqottho’ah) di awal surat adalah nama-nama malaikat. Saya telah berhubungan dengan mereka dalam beberapa kejadian. Tidak ada satu pun di antara Malaikat yang muncul (untuk saya) kecuali bahwa memberitahu saya tentang pengetahuan yang saya tidak tahu tentang sebelumnya. Secara umum, mereka adalah Syaikh saya. Jika saya mengucapkan setiap surat-surat itu setara dengan memanggil dan malaikat menjawab karena itu diarahkan kepada mereka.”

Ash-Syaikh Abu al-Hasan berkata:
“حم” Ha Mim dua rahasia dari Anda dan cahaya yang mengeluarkan dari Anda.
Dan dia juga mengatakan:
“Dengan kesucian 70 ( dari realitas Yasiin: Ya (10) + sin (60) = 70, Nilai ‘Ain adalah 70, ‘Ain (penglihatan) dan nama Allah ‘Aliim adalah Pengetahuan: sehingga 80 adalah Fa dan Fa adalah untuk Fatihah) dan itu Rahasia Anda kepada Nabi Muhammad (saw).”

Alif Lam Miim, Kha Miim, Alif Lam Ro, Tha ha, Kha Mim ‘Ain Sin Qaf, Ya Sin, Kaf Ha Ya ‘Ain Shod, Kaf dan Nun. Kalau dirangkai keseluruhannya menjadi sebuah kalimat : Shirotu ‘aliyin haqqun namikuhu (jalan ali adalah kebenaran yang kita pegang). Huruf muqatta’ah adalah huruf-huruf yang merupakan rumusan dialog antara Allah dengan kekasih-Nya (para nabi dan para wali)

Makna Miim dan ‘Ain sehingga dapat menemukan Tuhan dan bertemu dengan-Nya dan mengapa ketika kita mencari Tuhan dibalik huruf Alif dan Nun maka tidak bisa bertemu dengan-Nya.

۞ Tafsir huruf Nun dan Alif ۞

(mencari Tuhan dibalik huruf Alif dan Nun maka tidak bisa bertemu dengan-Nya)

• Nun Bernilai 50 (dalam numerologi Arab)
• Tafsir kata insan, memiliki 2 huruf Nun, merupakan simbol alam dunia / jasad dan alam akhirat / ruh / jiwa. Ruh yang disucikan akan memperoleh nur atau surga sedangkan ruh yang dikotori akan memperoleh nar / neraka.
• Huruf Alif dan Nun, merupakan lambang dari sebuah perahu (syariat) dan sebuah jiwa / individu / personal mengarungi lautan / medan ujian, perahu / sampan membentuk huruf Alif kiri-kanan adalah wilayah pilihan manusia (sunatullah adalah qadha’ dan qadar (baik-buruk) yang telah ditetapkan oleh Allah (Alif). Individu yang menaiki perahu (Nun), sampan / kayu adalah alat pilihan yang akan menggerakkan jiwanya menuju pilihan yaitu pertama, arah perahu kekiri berarti ashabul syimal / Nun menjadi nar / neraka, kedua, arah kekanan berarti ashabul yamin / Nun menuju nur / cahaya, ketiga, arah perahu tidak kekiri dan tidak kekanan tetapi ke tengah yang berarti sabiqunal awwalun / terdahulu mencapai tujuan-ini adalah golongan pecinta, yaitu menyembah karena kerinduan ingin bertemu dengan Sang Kholik – ini adalah jawaban isyarah tersembunyi dari Husein bin Mansur al Hallaj, yaitu para nabi dengan simbol mim (arti batinnya adalah sujud) yaitu Muhammad dan ‘Ain (artinya adalah rukuk) yaitu sayidina Ali bin Abu Thalib.
• Huruf Nun, mengingatkan kita juga akan Zunun / nabi Yunus (as) yang naik perahu di tengah lautan dan ditelan oleh ikan karena meninggalkan kaumnya sebelum ada perintah dari Allah.
• Dzikir Zunun / nabi Yunus (as) – doa keselamatan menghadapi medan ujian – adalah (surat Anbiya : 87-88)

۞ Tafsir Ain, Yaa, Sin, Nun, Alif (dalam numerologi Arab) ۞

• Huruf ‘ain bermakna sayidina Ali bin Abu Thalib merupakan pintu gerbang keilmuan. Sesuai hadist Nabi yang menyatakan bahwa Muhammad rasulullah adalah gudang ilmu dan sayidina Ali adalah pintunya. Huruf ain membentuk posisi rukuk dalam sujud, dalam riwayat ashabun nuzul quran ada ayat yang berkenaan dengan Ali bin Abu Thalib yaitu orang yang rukuk kemudian dalam posisi rukuk dalam sholat seperti melakukan sedekah berupa cincin. Inilah ayat Quran : “Walimu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan sholat, membayar zakat seraya rukuk” (Al Maidah : 55).
• Kunci sholat yang merupakan adab tatakrama / kepasrahan total Illallah ada di rukuk / huruf ain, sujud / huruf mim adalah kedekatan (muqorrobin-fana asma dan tajalli asma), barang siapa tidak tahu adab (rukuknya) maka tidak layak untuk dekat (muqorobbin).
• Huruf Ain bernilai 70, sedang huruf ya bernilai 10 dan huruf sin bernilai 60. Jadi secara sistematis yaitu ain (70) = ya (10) + sin (60), jadi Ya + Sin = ‘Ain yang merupakan ayat Quran dalam surat 36, surat Ya Sin. Ayat 58 dari surat Ya Sin adalah salamun qoulam mirrobirrohim. Jadi 5+8 = 13, posisi huruf ke 13 dalam abjad Arab adalah huruf Mim / sujud. Jadi untuk mengerti Ain / rukuk kita harus mengerti tafsir huruf Ya dan tafsir Sin. Dengan mengerti Ya dan Sin akan sampai kepada sayidina Ali bin Abu Thalib.
• Huruf Ya adalah akhir dari abjad Arab dan Alif adalah awal dari abjad Arab. Huruf Ya / hamba memimpin cenderung kearah Alif / Allah. Huwal Awwalu wal akhiru.
Rincian kalimat awwalu :
Alif (1) + waw (6) + lam (30) = 37 ; 3+7 = 10 ( Ya = 10, 1+0 = 1, pertama)
Rincian kalimat akhiru :
Alif (1) + Kho (600) + Ro (200) = 801 ; 8+0+1 = 9 (Tho’ yang bermakna penyucian / thohara dan bulan ke – 9 dalam Arab / Qomariyah adalah bulan ramadhan, bulan puasa.
• Penyucian qalbu dari kecintaan diri dan dunia merupakan tingkat awal penyucian untuk bersuluk kepada Allah. Sesungguhnya kotoran maknawi terbesar yang tidak bisa disucikan meskipun dengan tujuh lautan dan para nabi pun tidak bisa dan mampu menghilangkannya adalah kotoran kejahilan ganda (pura-pura tahu padahal tidak tahu). Kekeruhan ini mungkin akan memadamkan cahaya buraq untuk bermi’raj mencapai berbagai maqam spiritual (Imam Khomeini dalam hakikat dan rahasia sholat).
• dan Alif (1) + Tho’ (9) = 10 ( Ya: hamba), jadi seorang hamba yaitu simbol huruf Ya, harus melakukan puasa / Penyucian Jiwa / Tazkiyah Nafs untuk Allah semata simbol huruf Alif (1) atau hamba harus sabar dengan ketentuan-Nya , karena hasil puasa lillah billah menjadikan orang sabar atau innallaha ma’ashobirin (sesungguhnya Allah bersama (ma terdiri dari huruf mim dan ain , lihat Al-Baqarah : 153) orang yang sabar. Lihat bersama adalah ma, yaitu ma’ashobirin. Disini terungkap rahasia mim dan ain yaitu ma, seperti diucapkan oleh Husein bin Mansur al Hallaj. Jadi sabar adalah kunci menemukan Tuhan.
• Mempelajari ilmu ketuhanan akan menjadikan orang bersabar, seperti dialog nabi Musa (as) dan nabi Khidir (as), yaitu bagaimana kamu dapat sabar terhadap persoalan yang kamu sama sekali belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang-Nya (QS 18: 68). Barang siapa menghadapi kesengsaraan dengan hati terbuka, menunjukkan kesabaran dengan penuh ketenangan dan martabat, termasuk dalam golongan orang terpilih dan bagian untuknya adalah berikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar (QS 2: 155).
• Dalam Islam, kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sabar. Orang yang paling sabar adalah orang yang paling tinggi dalam kecerdasan emosionalnya.
• Gabungan rincian kalimat Awwalu dan Akhiru adalah seorang hamba ( ي = 10 = hamba) karena Akhiru (9) + Awwalu (1) = 10 (ي = hamba). Jadi seorang hamba menampung asma Allah yang lengkap dan memiliki potensi untuk menampakkan sifat ketuhanan.
• Huruf س bernilai 60 ( (dalam numerologi Arab), merupakan simbol dari sirr Muhammad. Sirr adalah rahasia ketuhanan yang disimpan dalam diri manusia sebagai hamba. Huruf س dalam kata Insan, huruf Alifnya adalah Allah, huruf س adalah rahasia / sirr ketuhanan, 2 huruf Nun adalah simbol dari hukum dunia dan akhirat yang merupakan representasi / perwakilan kitab suci Al-quran.
• Huruf ي (simbol hamba) digunakan untuk memanggil seseorang atau menarik perhatian seseorang. ي adalah simbol seorang hamba menyembah dan menyebut Tuhannya Ya Allah, Ya Rabbi, dll. Huruf ي juga digunakan oleh Allah untuk memanggil hamba-Nya. Jadi huruf ي juga berarti simbol antara yang disembah dan yang menyembah, tetapi posisi ي = 10 / hamba selalu cenderung kepada Alif (1) atau Allah karena Allah adalah awwalu dalam ilmu huruf.
• Alif (1) + waw (6) + lam (30) = 37 ; 3+7 =10, adalah ي menyatu dengan Alif (10 = 1+0=1) atau dibalik ي ada Alif atau di dalam manusia ada Tuhan atau istilah wahdatul wujudnya ibnu Arobi, yaitu antara penyembah dan yang disembah itu sama tapi tidak serupa atau menurut istilah Syeikh Siti Jenar, yaitu manunggaling kawula Gusti. “Persamaan” manusia dengan Allah. Hal inilah yang dimaksudkan dalam sabda nabi Muhammad “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam kemiripan dengan diri-Nya sendiri”. Lebih jauh lagi Allah berfirman: “Hambaku mendekat kepada-Ku sehingga Aku menjadikannya sahabat-Ku. Akupun menjadi telinganya, matanya dan lidahnya”. Juga Allah berfirman kepada Musa as “Aku pernah sakit tapi engkau tidak menjenguk-Ku “Musa menjawab: “Ya Allah, Engkau adalah Rabb langit dan bumi, bagaimana Engkau bisa sakit?” Allah berfirman :”Salah seorang hamba-Ku sakit, dan dengan menjenguknya berarti engkau telah mengunjungi-Ku”.

Kesimpulan :
• Tafsir يس “Ya Sin” akan membukakan rahasia huruf “Ma” yaitu Mim dan ‘Ain seperti yang dikatakan oleh Husein bin Mansur al Hallaj : dalam surat Yasin, ayat 58 “salaamun qoulam mirrobbirrohim”.
• Rahasia ketuhanan ada dalam diri manusia, agar manusia mampu menampakkan / mentajallikan Ketuhanan dalam dirinya maka perintah sholat (ruku, sujud) adalah sarana manunggaling kawula-gusti dan shodaqoh (menebarkan hasil usaha kebenaran / pengabdian masyarakat / agen perubahan / social agent) kepada sesama makhluk Tuhan (kesalehan sosial yang merupakan perwujudan dari salamun qoulam mirrobirrohim.
• Tafsir يس “Ya Sin” adalah simbol manusia sempurna yaitu hamba yang mampu menampung rahasia Allah dan di dalam sirr itu seorang penyembah dan disembah bertemu dan berdialog, ibarat sebuah pohon dengan pokoknya, cabangnya dan puncaknya. Imam al Baqir berkata : “Maukah kamu aku beritahu pokok islam, cabang dan puncaknya dan pintu kebaikan ?” Sulaiman bin Khalid berkata: “Tentu” lalu jawab Imam “Pokoknya adalah sholat, cabangnya adalah zakat, puncaknya adalah membela kaum tertindas dan menegakkan keadilan, dan pintu kebaikan adalah puasa merupakan perisai api neraka, sedekah itu menghapus dosa, dan sholat dimalam hari untuk berdzikir.

۞ Tafsir Mim (dalam numerologi Arab) ۞

• Huruf Mim merupakan Muhammad Rasululloh atau Ahmad, yang merupakan pintu menuju Ahad yang merupakan wahdaniyah Allah. Perbedaan antara Ahad dan Ahmad dalam huruf Arab adalah dengan huruf “Mim” (Muhammad Rasululloh-penutup jalur dan risalah kenabian).
• Mim juga berarti malakuti / keagungan / penguasaan atas seluruh langit bumi, ayat kursi merupakan ayat yang banyak mengandung huruf mim didalamnya.
• Huruf mim bernilai 40, 40 hari khalwat dengan ikhlas dengan mengamalkan surat Al Ikhlas dan ayat Kursi (ayat yang banyak mengandung huruf mim / sujud jadi sujud adalah cara menggapai keagungan). Juga surat al-Ikhlas juga diawali dengan Qulhuwallahu ahad. Jadi perwujudan ahad di dunia adalah Ahmad, ketika manusia menjadi ahmad maka merupakan tajalli / penampakan Sang Maha Kuasa dalam diri manusia. Sekali lagi bedakan Ahmad dan Ahad terletak huruf “Mim”.
• Huruf mim, membentuk posisi sujud dalam sholat. Sujud merupakan posisi kedekatan dengan Allah, bahkan sujud merupakan simbol dari wahdaniyah Allah. Metode untuk mendekat (muqorobbin / kewalian) kepada Tuhan yang paling cepat adalah dengan sujud yang lama dalam sholat. Di dalam hadist Qudsi, Allah berfirman : “Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Kuumumkan perang kepadanya, tiada hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan hal-hal yang fardhu – 17 raka’at dan hamba-Ku tersudah mendekat kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah – 34 raka’at qobliyah dan ba’diyah – baginya hingga Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yang ia gunakan untuk melihat dan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memerangi dan kakinya yang ia gunakan untuk melangkah, apabila ia minta pada-Ku niscaya Kuberi permintaanya”. (shahih Bukhari hadist no.6137).

۞ Tafsir rukuk / huruf (ء) ‘Ain ۞

Etika rukuk adalah meninggikan maqam rububiyah-Nya yang agung, mulia dan merendahkan maqam ubudiyah seorang hamba yang lemah, fakir dan hina. Rukuk adalah awal ketundukan dan sujud adalah puncaknya. Yang melakukan rukuk dengan sempurna dan benar akan menemukan keselarasan pada sujud. Imam Shadiq berkata “Rukuk yang benar kepada Allah adalah menghiasi dengan cahaya keindahan asma-Nya. Rukuk adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Dalam rukuk ada adab penghambaan dan dalam sujud ada kedekatan / qurb dengan Dzat yang disembah. Simbol rukuk adalah seorang hamba dengan hati tunduk kepada Allah, merasa hina dan takut dibawah kekuasaan-Nya. Merendahkan anggota badan karena gelisah dan takut tidak memperoleh manfaat rukuk.

۞ Tafsir sujud / huruf ( م ) mim ۞

Sujud merupakan puncak ketundukan dan kekhusyukan seorang hamba, sebaik-baik wasilah taqarub illallah, sebaik-baik posisi untuk mencapai cahaya tajalli asma Allah, dan maqam qurb dengan-Nya. Nabi Muhammad (saw) bersabda: “Lamakanlah sujudmu”, sebab tiada amal yang lebih berat dan paling tidak disukai oleh syaitan saat melihat anak Adam sedang sujud, karena dia telah diperintahkan sujud dan dia tidak patuh. Sujud merupakan sebab mendekatnya hamba dengan Sang Kholik. Wahai orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat, Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar (al-Baqarah: 153)

۞ Tafsir Salam / huruf Ya Sin ۞

Salam adalah salah satu nama Allah. Arti salam dari sisi Allah adalah keselamatan Dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Adapun Dzat-Nya terpelihara dari kelenyapan, perubahan dan dari segala kekurangan. Salam dari sisi hamba adalah doa, yaitu memohon keselamatan dan bencana dunia akhirat. Salam juga berarti ungkapan kepasrahan / ketundukan kepada sunnatullah (quran hadist). Menurut Imam Shodiq “Salam adalah orang yang melaksanakan perintah Allah dan melakukan sunnah Rasululloh dengan ikhlas (intinya Ahad dan Ahmad), juga selamat dari bencana dunia akhirat. Salam juga bermakna penghormatan kepada hamba yang sholeh (assalamualaina wa ala ibadillahissholihin) dan malaikat pencatat amal Al Futuhat Al Makiyah, karangan Ibnu Aroby, merujuk empat perjalanan akal dalam bab 69 tentang rahasia sholat sebagai perjalanan spiritual manusia. Perintah sholat 51 raka’at kepada nabi Muhammad (saw) saat isro’ mi’raj “Tuhan memerintahkan hamba-Nya itu supaya setiap muslim setiap hari sholat 50 kali. Kemudian untuk umatnya menjadi 17 raka’at wajib di lima waktu dan sisanya 34 raka’at menjadi sunnah muakkad.

Mulla Shadra dalam bukunya Al Asfar Al Arba’ah mengatakan: “Ketahuilah bahwa para pesuluk diantara orang arif / irfan dan para wali menempuh empat perjalanan akal :

  1. Perjalanan makhluk kepada kebenaran diskusi metafisika umum (min al khalq ila al haq).
    Pesuluk mempelajari dasar-dasar metafisika umum dan dalilnya pesuluk cenderung kepada kajian semantik dan metafisika dasar terhadap firman Tuhan dalam Quran.
  2. Perjalanan bersama kebenaran di dalam kebenaran pengalaman metafisika khusus dengan pengalaman pribadi (bi al haq fi al haq)
    Pesuluk akan melihat sifat-Nya dan nama-Nya yang tertinggi baik nama yang mewujudkan rahmat-Nya dan murka-Nya. Hukum nama-nama Allah ini di dalam kejamakannya akan mewujud di dalam diri pesuluk. Hal ini dikenal dengan nama maqam wahidiyah / tujuh substansi halus (lataif). Pesuluk akan mengalami rasa takut dan harapan (al khauf wa al raja).
  3. Perjalanan dari kebenaran menuju makhluk (min al haq ila al khalq)
    Setelah mengalami fase peniadaan diri, pesuluk menerima Qorunia Tuhan dan kembali kepada kesadaran diri. Pesuluk menyaksikan penciptaan dan alam kejamakan dalam diri makhluk tetapi dengan mata yang lain, dengan pendengaran yang berbeda. Puncak perjalanan ketiga membawa pesuluk menuju kesucian / wilayah (kewalian).
  4. Perjalanan bersama kebenaran di dalam makhluk (bi al haq fi al khalq)
    Maqam penetapan hukum dan pembedaan dari baik dan buruk. Ini adalah derajat kenabian, penetapan hukum dan kepemimpinan atas umat manusia yang berhubungan dengan urusan-urusan mereka yang beragam serta bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Seorang arif tak akan benar-benar mencapai maqam spiritual tertinggi jika tidak memanifestasikan keimanan puncak, yang telah diraihnya lewat dua perjalanan pertama, dalam bentuk concern sosial politik untuk mereformasi masyarakat dan membebaskan kaum tertindas dari rantai penindasannya. Tidak lain maqam penetapan hukum (legislatif) atau melibatkan diri dalam kemasyarakatan dan hubungan sosial, merupakan perwujudan penebaran salam kepada makhluk yaitu salamun qoulam mirrobirrohim yang merupakan inti tafsir yasin.

۞ Tafsir huruf Ba’ ۞

• Bernilai 2 (dalam numerologi Arab). Ba adalah urutan huruf abjad Arab setelah Alif / Allah. Jadi huruf ba adalah simbol kedekatan (maqam qurb) dengan Allah, buktinya huruf ba paling dekat dengan Alif dalam tata urutan huruf abjad Arab. Golongan orang yang dekat dengan Allah adalah golongan yang mendapat anugrah, nikmat dan derajat, berdasarkan urutan derajatnya (An-Nisa:69) “Menaati Allah dan rasul-Nya adalah sumber anugrah dan kenikmatan Allah, mereka itu adalah para nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid dan orang sholih.

۞ Titik Dibawah Huruf Ba’ ۞

Imam Ali bin Abi Talib (ra) pernah berkata: “Seluruh Al-Quran terkandung dalam surah Al-Fatihah, seluruh Surah Al-Fatihah terkandung dalam Kalimah Bismillahir Rohmannir Rohim, dan Seluruh Kalimah Bismillahir Rohmannir Rohim itu terkandung dalam huruf “Ba” dan TITIK itu adalah AKU”.

Imam Ali bin Abi Thalib (ra) berkata:
اِنَّا الْنُقْطَة تَحْتَ اَلْبَاءْ
Inaalnuq’thoh takhta albaa’
Aku adalah titik di bawah ba’

Al-Kummal meriwayatkan suatu hadis:
“Dengan Ba’ nampaklah Wujud, dan dengan titiknya terbedakan antara Al-Abid (yang menyembah) dan Al-Ma’bud (Yang Disembah).”

Jadi, Titik di bawah Ba’ adalah pembeda, dan Ba’ adalah penampakan. Keberadaan (Ba’) di sisi Alif mengisyaratkan pada khilafah akal yang universal yang merupakan insan-kamil, Muhammad saw dalam mata-rantai vertikal dari Allah swt. Titik dibawah (Ba’) adalah gambaran siklus kerasulan sebelum datangnya Muhammad saw. Jumlah nabi yang diutus sebelum Muhammad saw sebanyak 124.000 nabi. Muhammad (saw) adalah penutup pintu kerasulan. Ayat bismillah diberikan kepada seluruh para nabi dari nabi Adam (as) sampai Isa (as) dan merupakan kunci surga.

(Alif) adalah huruf cahaya dan (Ba’) adalah huruf gelap. Oleh karena itu semua Asma Allah merupakan huruf-huruf cahaya yang terdapat dalam huruf muqottho’ah di awal surat Al-Qur’an, yang tersusun dalam kalimat berikut:

صِرَاطُ عَلِيْ حَقٍّ نَمْسِكُهُ
Shiroothu ‘Ali Haqqu Namsikuhu
Jalan Ali adalah benar kita pegang teguh.

Tersembunyinya (Alif) sebagai huruf cahaya di dalam (Ba’) sebagai huruf gelap, menunjukkan bahwa alam kegelapan dalam batinnya ada cahaya. Allah swt berfirman:

اللهُ وَلِيِّ اْلَّذِيْنَ ءَامَنُواْ يُخْرِجُهُمْ مِّنَ اْلظُّلُمٰتِ إِلَى اْلنُّورِ
Allahu waliyyilladziina ‘Aamanuu yukhrijuhum minad dzhulumaati ilan nuur
Allah adalah Penolong orang-orang yang beriman,
Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan pada cahaya.(Al-Baqarah 2 : 257)

• Kutipan dan tafsir Ali Imran: 97 “Rumah yang mula-mula berarti universal dan wahana manifestasi Sang Pencipta, falak kedelapan yaitu kursi. Dibangun untuk manusia berarti mengacu kepada manusia secara keseluruhan dan wajib atas manusia untuk menghadap kepada-Nya. Bakkah berarti falak kedelapan yaitu kursi. Yang diberkati berarti keberkahan pengetahuan dan hakikat, yang darinya kemudian turun kepada makhluk dan maujud lain dibawahnya. Dan menjadi petunjukbagi semesta alam berarti manifestasi Tuhan di alam semesta. Petunujuk di sini berarti wahyu, penyingkapan batin dan ilham. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata berarti penyaksian alam malakut dan jabarut serta realitas yang sederhana karena akal pertama merupakan tempat penyatuan semua pengetahuan dan maujud. Maqam Ibrahim berarti dengan wasilah beliau melalui sholat, seorang salik sampai kemaqam tauhid jami’ hakiki Ibrahimi. Barang siapa memasukinya, menjadi aman berarti aman dari kemusyrikan yang jail dan khafi dan bebas dari hijab melihat selain Allah. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, orang yang sanggup menempuh perjalanan ke Baitullah, berarti sengaja datang ke bait-Nya dengan cara makrifat, mukasyafah dan musyahadah. Sanggup menempuh perjalan dengan kekuatan ilmu dan amal. Ilmu diperoleh dengan cara lewat perantara hamba-Nya dan dari Allah langsung seperti wahyu, ilham dan penyikapan batin.
• Rumah (bait) pertama yang dibangun adalah Bakka (Ali Imron: 97) yang penuh dengan barokah. Bakka juga ditulis dengan nama Makkah, di sini huruf mim diganti huruf ba. Jadi keberkahan adalah Muhammad dan keluarganya (Ali, Fatima, Hasan dan Husein). Dalam hadist nabi disebut bahwa malaikat Jibril as turun membawa lima paku untuk perahu nabi Nuh (as). Lima paku itu bertuliskan Muhammad, Ali, Fatima, Hasan / sabar, Husein / sabir.
• Sayidina Ali adalah orang dari suku Quraisy yang lahirnya di dalam Bakka / ka’bah (Ali Imran: 97). Bismillah adalah kunci surga, dalam hadist nabi sewaktu mi’raj. Nabi Muhammad saw melihat empat aliran sungai disurga yaitu air, susu, madu dan anggur. Tiga aliran sungai tersebut berasal dari ayat bismillah tepatnya 3 huruf mim dan satunya lagi berasal dari huruf ha dalam asma-Nya, Allah.
• Huruf ba dan Alif dalam ayat bismillah, mengandung arti ba’ di sini melebur dengan Alif yang artinya sang pembaca dengan khusyu’ akan dibuat dekat dan lebur dengan kesadaran Illahi yang berarti mampu berdialog dengan Sang Kholik. Inti surat Al-Fatihah / ummul kitab ada di ayat bismillah yang merupakan dasar dari wahyu Quran.

Dalam sebuah hadist, rasulullah saw bersabda “Sholat adalah mi’rajnya mukminin”. Istilah mi’raj di sini secara spesifik dihubungkan dengan peristiwa isra’ mi’raj nabi Muhammad (saw) pada tanggal 27 rajab tahun ke -13 dari Nubuwwah, saat beliau berusia 53 tahun. Secara umum, makna mi’raj dalam hadist dihubungkan dengan “tangga” spiritual, yakni suatu perangkat ibadah yang dapat menaikkkan derajat si mu’min menjadi lebih dekat dengan Rabbnya. Empat macam mi’raj ruhani :

  1. Mi’raj menuju Allah dari maqam jiwa menuju al-ufuq al mubin yaitu akhir maqam qalbu dan titik awal mainiffetasi nama-nama-Nya. Tahapan terakhirnya adalah terangkatnya tirai kemajemukan dari wajah al wahdah.
  2. Mi’raj dalam Allah dengan meneladani sifat-sifat-Nya dan mengaktualisasi nama-nama- Nya keufuk tertinggi, yaitu puncak al hadarah wahidiyah. Tahapan terakhirnya adalah terangkatnya tirai wahdah dari wajah kemajemukan batiniah.
  3. Naik ke hakikat kebersatuan dan al hadrah al ahadiyah yaitu maqam qaba qawsayn yang masih menyisakan dualitas, bila dualitas hilang maka memasuki maqam aw adna – puncak wilayah kewalian. Tahapan terakhirnya adalah terangkatnya tirai dualitas / kontradiktif, lahir dan batin dan tiba dihadapan ahadiyah al jami’ (kebersatuan dalam kemajemukan).
  4. Perjalanan dengan Allah dan dari Allah untuk penyempurnaan yaitu maqam al baqa ba’da fana (abadi setelah hancur) dan al farq ba’da al jami’ (keterpisahan setelah persatuan). Tahapan terakhirnya adalah maqam ahadiyah al jami’ wa al farq dengan menyaksikan penjelmaan al Haq pada makhluk dan sinarnya makhluk ke dalam al Haq. Pada tahapan ini seseorang menyaksikan ‘ayn al wahdah (yang tunggal) dalam al katsrah (yang majemuk) dan melihat kemajemukan dalam ‘ayn al wahdah. dasar hukum maqam ini adalah hadist qudsi “Barangsiapa mencari Aku, ia menemukan Aku. Barangsiapa yang telah menemukan Aku, ia mengenal Aku. Barangsiapa telah mengenal Aku, ia mencintai-Ku. Barangsiapa telah mencintai-Ku, Aku membunuhnya. Barangsiapa telah Aku bunuh, Akulah yang akan membayar diyatnya. Barangsiapa yang diyatnya menjadi tanggungan-Ku, Aku lah dendanya dan ayat Quran”. Dan kamu tidak melempar ketika kamu melempar, melainkan Allah yang melempar (Al Anfal: 17).

Maka di dalam sholat tersirat suatu dinamika / suatu proses perjalanan yang sifatnya menaik (‘uruj). Dalam 17 raka’at pada lima waktu sholat wajib, diucapkan 94 kali takbir pokok yang membatasi setiap bentuk sikap dalam sholat, yang berarti dalam sehari semalam seharusnya terjadi minimal 94 kali kenaikan derajat kedekatan dengan Allah. “Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapapun yang ada dipetala langit dan bumi, dan burung dan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara sholatnya dan cara tasbihnya masing-masing. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan”(An Nur: 41). Tasbih mencerminkan aliran setiap dalam suatu proses penyerahan diri (aslama) yang bersifat umum.

Dalam apek praktis, sholat tampak tercermin keseluruhan dari dinamika kehidupan : pada saat berdiri posisi akal ada diatas qalbu, pada saat ruku’ posisi akal sejajar qalbu, dan pada saat posisi sujud, akal ada dibawah qalbu. Dan nabi Muhammad (saw) mengingatkan bahwa semulia-mulia keadaan sholat adalah pada saat sujudnya, dan beliau memerintahkan agar kita memperbanyak berdoa pada sujud, yaitu pada saat akal ada di bawah qalbu (akal yang tunduk kepada qalbu yang di rahmati Allah. “Mereka memiliki qalbu yang dengannya mereka menggunakan akalnya” (Qs 22:46)

Sholat dzuhur : Penopang eksistensi manusia di dunia, anasir penciptaan yaitu air, tanah, api dan udara. Penopang ruh ketika terselubungi tirai kegelapan.

Sholat Ashar : Pencampuran anasir penciptaan dan ruh dari al-Haq.

Sholat Maghrib : Tiga kekuatan badan yaitu alami, hewani dan emosi. Tiga kekuatan ini menampakkan diri ketika ruh tenggelam diufuk jasmani dan terselubung sepenuhnya.

Sholat Isya’ : Empat organ pokok dan sumber kekuatan manusia yaitu otak, hati dan dua fakultas pemikiran. Hal ini merupakan kesempurnaan manusia untuk menjalankan hidup dan otoritas melakukan apa saja. Kekuatan ini harus diarahkan kembali ke al-Haq.

Sholat Subuh : Titik temu siang dan malam juga ruh dan jasad. wujud kesempurnaan akan ruh dan jasad.

Link part 1 : ilmu huruf muqottho’ah