Dasar Agama Langit

Dasar setiap agama langit adalah wahyu dan inspirasi. Seorang Nabi adalah seseorang yang dianugerahi kesempatan untuk dapat langsung berhubungan dengan Tuhan.

Dan diberi kemampuan untuk menyatakan kehendak-Nya. Islam, sebagaimana agama-agama langit lainnya, mempunyai Tuhan sebagai penguasanya.

Al-Quran mengatakan : “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” — Tuhan Yang Mahakuasa telah mengajarnya. (QS. 53:4)

“Bila seseorang tak memperoleh pengetahuan yang bermutu dan banyak, maka ia tak memiliki pengetahuan yang “hakikat dan tak hakikat”.

Dengan demikian, orang tak dapat mengharapkannya memiliki sesuatu pengetahuan tentang “ilmu insani” yang diperoleh orang melalui riset, upaya, ketekunan dan waktu.

Ilmu-ilmu ini sedikit berada di bawah kedudukan ilmu ilahiah (ilmu ketuhanan), yang diperoleh tanpa melalui riset, upaya, ketekunan dan waktu.

Pengetahuan ini adalah pengetahuan para nabi, yaitu suatu pengetahuan yang dianugerahkan Allah. Tidak seperti matematika dan logika, ia diperoleh tanpa melalui riset, upaya, studi, ketekunan, dan tak membutuhkan waktu. Melainkan diperoleh melalui kehendak-Nya, penyucian dan pencerahan jiwa, sehingga mereka berpaling kepada kebenaran, lewat pertolongan, ilham, dan wahyu-wahyu-Nya.

Pengetahuan ini bukanlah hak istimewa semua manusia, tetapi hak para nabi. Inilah salah satu mukjizat mereka, tanda yang membedakan para nabi dari manusia lainnya”.

Manusia yang “bukan” nabi “takkan” memperoleh pengetahuan tentang hakikat dan yang bukan hakikat, yang tanpa melalui riset, ketekunan, matematika, logika, dan proses waktu. Sedangkan orang awam secara “fitrah (sifat asal)” tak mampu mencapai pengetahuan serupa, karena hal itu berada diatas dan diluar sifat dan upaya mereka. Karenanya, mereka berpasrah diri, patuh, dan mempercayai sepenuhnya kebenaran sabda para nabi.

Jadi apabila Engkau menemui perihal masalah perselisihan antar agama, ini tidak lain hanyalah bagi mereka-mereka yang bodoh, orang bodoh bukan karena dia tidak bisa matematika, membaca atau yang lain, sebab itu hanya kurang latihan dan belajar.

Yang dimaksud bodoh disini adalah “mereka yang tidak mau menerima kebenaran (jahiliyyah)”. Sebagaimana IBLIS yang tidak mau menerima “kebenaran” untuk bersujud pada Nabi Adam (as) dan “LUPA” karena “EGOnya” jika Ruh Tuhan ditiupkan pada Nabi Adam (as). Iblis akan tertawa riang-gembira melihat perselisihan dan pertengkaran antar umat beragama yang mana mereka “LUPA” pada “AHKLAK” BERAGAMA.